Strategi Pembangunan Ekonomi
Dalam kurun waktu beberapa tahun
terakhir Pemerintah memfokuskan program pembangunannya dengan pengurangan
pengangguran dan kemiskinan untuk peningkatan perekonomian. Hasilnya memang
belum sepenuhnya memuaskan berbagai pihak meski indikator-indikator sosial yang
ada telah menunjukkan perbaikan dalam pengurangan tingkat pengangguran dan
kemiskinan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS)
mencatat jumlah penduduk Indonesia pada Juni 2010 sebesar 234,2 juta jiwa
dengan laju pertumbuhan 1,33 persen per tahun. Dari jumlah itu, jumlah angkatan
kerja kini mencapai 116 juta orang. Sebanyak 107,41 juta orang adalah penduduk
yang bekerja. Sedangkan jumlah penganggur sebanyak 8,59 juta orang atau
penganggur terbuka sebesar 7,41 persen. Memang itu mengalami penurunan apabila
dibanding 2009 yang sebesar 8,14 persen. Penduduk miskin tahun 2010 berjumlah
31,02 juta orang atau sebesar 13,33 persen, mengalami penurunan 1,51 juta jiwa
dibandingkan dengan tahun 2009 (sebanyak 32,53 juta) atau 14,15 persen.
Oleh karena itu, jika perlu, pemerintah dapat memplot anggaran pendapatan dan
belanja negara (APBN) khusus untuk pengentasan kemiskinan dan pengangguran,
sebagaimana pemerintah memplot 20 persen APBN-nya untuk sektor pendidikan. Di
sisi lain, pemerintah dapat juga meningkatkan stimulus fiskalnya khusus untuk
mengurangi atau mengentaskan kemiskinan dan pengangguran.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2010-2014, tersurat pemerintah
akan terus melanjutkan tiga strategi pembangunan ekonomi, yaitu pro growth, pro
job dan pro poor. Termasuk di dalamnya mewujudkan pertumbuhan disertai
pemerataan (growth with equity). Ketiga strategi itu diharapkan sebagai
pendorong percepatan laju pertumbuhan ekonomi yang dapat memberikan lebih
banyak kesempatan kerja. Dengan demikian, makin banyak keluarga Indonesia dapat
menikmati hasil-hasil pembangunan dan dapat keluar dari kemiskinan.
Prioritas pembangunan nasional yang dijabarkan dalam RPJM 2010-2014 terdapat 11
butir, antara lain penanggulangan kemiskinan serta peningkatan kesejahteraan
rakyat. Yang disebut terakhir menuntut tidak hanya pertumbuhan ekonomi tinggi,
namun juga pertumbuhan ekonomi berkualitas (inklusif) dan berkeadilan.
Tantangan utama pembangunan ke depan tentu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang
berkeadilan, yang mampu menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan.
Bagaimanapun, pembangunan ekonomi yang
pro growth, pro job, dan pro poor perlu terus dilaksanakan. Cara yang ditempuh
adalah dengan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat, serta
meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar seperti
pendidikan, kesehatan, air bersih, dan juga lembaga keuangan. Komitmen ini
hendaknya tidak sebatas rencana dan wacana, namun benar-benar harus dapat
direalisasikan dan diimplementasikan.
Sebenarnya, kondisi perekonomian dunia yang terus membaik sebagai akibat krisis
finansial global mempunyai pengaruh terhadap kinerja perekonomian domestik. Ini
terindikasi dari meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi. Dengan dukungan
kebijakan pemerintah yang ekspansif, peningkatan laju pertumbuhan ekonomi
seharusnya dapat memperluas terciptanya lapangan kerja baru.
Sejak 2005, rata-rata setiap satu persen pertumbuhan ekonomi dapat menyerap
tenaga kerja baru sekitar 400.000 orang. Penyerapan tenaga kerja ini
diperkirakan makin meningkat sejalan dengan program dan kebijakan pemerintah
dalam meningkatkan investasi melalui perbaikan infrastruktur dan berbagai
kebijakan lainnya.
Implementasi program-program ini terus dilakukan untuk memberikan akses yang
lebih luas kepada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, agar dapat
menikmati hasil-hasil pembangunan. Dilanjutkannya berbagai langkah antara lain
melalui pemberian subsidi, bantuan sosial, program keluarga harapan (PKH), PNPM
Mandiri, dan dana penjaminan kredit/pembiayaan bagi usaha mikro, kecil,
menengah (UMKM) dan koperasi melalui program kredit usaha rakyat (KUR). Program
ini, apabila dilaksanakan dengan benar dan tepat sasaran, dapat membantu
pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang tidak atau belum mampu dipenuhi dari
kemampuan mereka sendiri.
Selama ini tingkat pengangguran menurun karena didukung makin tingginya
angkatan kerja yang bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia
(TKI). Pada awal tahun 2010 tingkat pengangguran terbuka diperkirakan berada
pada kisaran 7,41 persen.
Demikian pula tingkat kemiskinan tahun 2010, diharapkan terus mengalami
penurunan. Tercatat jumlah penduduk miskin awal 2010 sebesar 31,02 juta orang
atau sebesar 13,33 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Di antaranya di
daerah pedesaan, penduduk miskin berkurang 0,69 juta orang, dari 20,62 juta
menjadi 19,93 juta. Sedangkan di daerah perkotaan berkurang 0,81 juta orang
dari 11,91 juta menjadi 11,10 juta orang.
Berbagai program dan upaya harus terus dilaksanakan pemerintah, seperti
perluasan kesempatan kerja, pemberian subsidi, bantuan sosial dan lain-lain.
Ini penting untuk menurunkan tingkat kemiskinan tahun 2010 yang berada pada
kisaran 12-13,5 persen. Begitu juga untuk menciptakan pembangunan ekonomi
berkualitas dan berkeadilan, berbagai langkah perlu dilakukan untuk menciptakan
lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan. Tentu untuk merealisasikannya
diperlukan penyempurnaan peraturan mengenai ketenagakerjaan, pelaksanaan
negosiasi tripartit, serta penyusunan standar kompetensi, penempatan,
perlindungan, dan pembiayaan tenaga kerja ke luar negeri.
Sumber : http://www.fiskal.depkeu.go.id/